boleh aku pinjam otak dan kepalamu bung, untuk kutukar dengan jantung yang mulai menghitam
atau mungkin kamu lebih tertarik dengan dua gelas susu segar bersanding lilin-lilin temaram yang kelak kutukar dengan pintu rejeki ku yg seluas batas
aku mau pinjam satu kemejamu saja,
tak akan kutukar dengan tuduhan, atau rengekan, atau apa
tapi beri aku cermin kaca untuk memaki setan busuk di dalam sana
ruteku semakin jauh,
justru semakin mendekat pada yang ingin kau susun
sayang,
sukses itu gampang, menjadi kaya itu mudah, segala cara sekarang bisa
banyak jalan bukan ?
tapi semakin banyak jalan menyebabkan percepatan bosan
hidup jadi berjalan terlalu singkat, sayang
terlalu naif
dimana batas sakral ?
aku sendiri semakin kacau nampaknya
materi dan sub-sub nya bukan puncak, tak pernah selalu
uang berlimpah, keluarga rukun, rekan yg selalu baru, dikenal semua orang, banyak dicintai, kebutuhan tercukupi, volume otak berkualitas, ritual-ritual tak ditinggal, damai dan menerangi menjadi simbolnya...
tapi aku selalu berpikir akan ada yang kosong,
akan ada yang selalu dibiarkan atau diatur agar selalu tak tergapai
kalau ini dongeng,
ini babak dimana aku dikutuk nenek sihir menjadi buah apel
diam dan menunggu, sementara semua orang menyukaiku, membicarakan manisku,
ah sayang,
aku sendiri tak pernah mencicipi bagaimana rasaku
aku berlebih, tapi satu kurangku justru menghambarkan segalanya...